Anak-anak menjadi obyek yang rentan terhadap kecelakaan di jalan. Selain itu, anak-anak juga sekaligus menjadi pilar penting dalam menanamkan kesadaran berlalu lintas.
Maklum, tahun lalu, di seluruh dunia, anak-anak yang tewas akibat kecelakaan di jalan mencapai 260 ribu jiwa. Organisasi internasional menyebutkan, kecelakaan di jalan bakal menjadi pembunuh nomor wahid bagi anak-anak jika tidak ada aksi serius untuk menanganinya. Total korban kecelakaan di jalan sepanjang tahun lalu ditaksir sekitar 1,3 juta jiwa. Sekitar 19 ribu jiwanya dikontribusi Indonesia.
"Perilaku agresif dan ugal-ugalan di jalan salah satunya dipicu oleh penanaman perilaku yang keliru di usia golden age yakni di usia 3-9 tahun," papar Karina, penggiat komunitas Belajar Sambil Bermain (BSB) Plus Alang Alang, di Ciawi, Bogor, Sabtu (2/1).
Pernyataan Karina mencuat saat BSB plus Alang Alang dan Independent Bikers Club (IBC), Jakarta menggelar penyuluhan pengetahuan dasar berlalulintas yang aman, nyaman, dan selamat, Sabtu (2/1).
Penyuluhan yang dibalut dengan bermain, bernyanyi, dan penayangan film kartun keselamatan jalan itu melibatkan puluhan anak-anak usia 7-15 tahun yang tergabung dalam komunitas BSB Plus Alang Alang. Komunitas tersebut berdiri sekitar 10 tahun lalu dan kini memiliki ratusan peserta anak-anak di delapan lokasi berbeda di Jakarta dan Bogor.
Menurut Edo Rusyanto, ketua IBC, penyuluhan tersebut bagian dari program Save The Children (STC) yang digelar kelompok pengguna sepeda motor itu. "Program ini bagian dari rasa tanggungjawab kami kepada masyarakat," papar Edo yang juga penggiat di Road Safety Association (RSA).
Ia menuturkan, di usi ketiga tahun IBC, setiap tahunnya mereka membuat fokus program yang berbeda. Pada 2008, jelas dia, IBC fokus kepaa program Safety Riding Goes To School yang menyasar ke siswa Sekolah Menengah Umum (SMU), sedangkan pada 2009 fokus kepada lingkungan. ”Salah satunya kami menggelar aksi Bersih Tangkuban Perahu, tempat wisata di Bandung,” jelas Edo.
Ia menuturkan, program STC yang dibiayai oleh kas IBC memiliki dua makna, pertama, berupaya mensosialisasikan berlalulintas di jalan yang aman dan selamat kepada anak-anak. Kedua, mengajak para orang tua agar lebih bertanggungjawab saat berlalulintas di jalan. “Anak-anak bisa menjadi korban langsung kecelakaan dan menjadi korban tidak langsung akibat orang tuanya menjadi korban kecelakaan,” papar Edo.
Sepanjang 2010, kata dia, IBC berniat menggelar penyuluhan di Jakarta, Bogor, Bekasi, Semarang, dan Jogjakarta. “Kami juga menggelar satu seminar pada April 2010 terkait keselamatan berkendara dan keselamatan anak-anak,” jelasnya.
Hati-hati Yuk
Fatya, anggota IBC yang mengajak anak-anak BSB plus Alang Alang untuk menyanyikan lagu di atas, menyelipkan pesan agar para anak-anak hati-hati saat menyeberang jalan. “Jangan lupa lihat kiri kanan dan kalau naik motor pakai helm yah,” ujar Fatya, yang sehari-hari adalah jurnalis di Investor Daily.
Dalam penyuluhan Sabtu itu, IBC mengusung materi dasar seputar lalu lintas dan bersepeda motor. Materi itu mencakup pengenalan rambu lalu lintas, tugas polisi lalu lintas, pentingnya memakai helm, dan berboncengan yang tidak boleh melebihi dari dua orang. “Artinya, naik sepeda motor hanya berdua yaitu pengendara dan satu penumpang,” ajak Edo kepada anak-anak.
Sementara itu, Wakil Ketua IBC Rio Winto mengajarkan kepada anak untuk memakai helm yang benar. “Kalau pakai helm, harus diklik yah supaya aman,” papar Rio.
Pentingnya mengajak anak-anak agar berboncengan tidak lebih dari dua orang karena belakangan ini marak orang tua yang memaksakan anaknya untuk berboncengan lebih dari dua bahkan hingga lima orang. “Kalau boncengan dengan anak kecil memangnya dilarang undang undang ya kak?” tanya Mirna, salah satu peserta.
Sontak Edo memaparkan aturan itu. UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) bersepeda motor lebih dari dua orang bakal terancam sanksi kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu.
Sontry Napitulu, pengurus IBC yang bertanggung jawab soal safety riding menambahkan, bersepeda motor hingga empat orang, bakal menganggu manuver pengendara. “Akan mengganggu saat berbelok atau ketika harus bereaksi saat pengereman mendadak, hal itu bisa memicu kecelakaan,” jelas Sontry.