VIVAnews - Perempuan berusia 78 tahun itu nampak sumringah ketika tahu ada wartawan dari Indonesia mendekatinya di sela-sela jamuan makan kenegaraan yang diadakan PM Kevin Rudd di Gedung Parlemen, untuk menghormati kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu siang 10 Maret 2010.
"Tentu saja, saya senang bisa berbicara kepada wartawan dari Indonesia. Kalian teman almarhum suami saya," kata Shirley Shackleton kepada saya setelah memperkenalkan diri. Shirley adalah janda dari Greg Shackleton - wartawan stasiun televisi Channel 7 yang tewas saat meliput pergolakan di Balibo, Timor Timur (kini Timor Leste) pada 1975.
Sejak membaca cerita yang dimuat media di Australia, bahwa Shirley akan hadir di acara makan siang kenegaraan, dan berencana menyerahkan surat kepada Presiden SBY, Uni mencoba mencari jalan bagaimana caranya bertemu Shirley, yang hadir di jamuan makan kenegaraan atas undangan senator independen Xenophon.
Seperti biasanya dalam jamuan kenegaraan, semua undangan ditempatkan di meja tertentu dengan nama tertera di meja. Saya mencari nama Shirley, tak ada dalam daftar resmi. Tapi saya yakin bisa menemuinya lewat senator Xenophon. Got it, Xenophon duduk di meja 49.
Jaraknya dari ujung ke ujung dengan meja tempat saya duduk, di meja nomor 6. Meja Xenophon di bagian belakang, sementara meja saya ada di deretan depan, dekat dengan panggung pidato.
Tapi rasa penasaran tak bisa menghalangi saya untuk melintasi ruangan, sedikit melanggar protokol, karena semua hadirin harus duduk manis di meja masing-masing, untuk menemui senator Xenophon. Dan, saya beruntung. Saat saya tiba di meja nomor 49, saya melihat Dino Patti Djalal, staf khusus Presiden SBY bidang internasional sedang berbicara dengan seorang perempuan tua, bertubuh gemuk, dengan tinggi sekitar 155 centimeter.
Pastilah dia Shirley. Dino Patti Djalal rupanya memilih untuk "jemput bola" dengan mencari Shirley dan menerima surat yang ingin disampaikan ke Presiden SBY. Menurut saya itu langkah yang baik dan menghindari sedikit "kehebohan" yang mungkin timbul jika Shirley dan senator Xenophon memilih menyampaikan sendiri surat ini kepada Presiden SBY yang duduk di meja yang khusus disediakan untuk VVIP di depan panggung.
Dino dan Shirley nampak bicara bisik-bisik selama sekitar lima menit. Lalu menerima surat dari Shirley. Dino nampak kaget ketika tahu saya berdiri di belakangnya. Sesudah Dino kembali ke mejanya, saya bertanya kepada Shirley, apa isi dari perbincangan dengan Dino?
"Saya ingin agar Presiden SBY menindaklanjuti hasil penyelidikan atas kasus Balibo yang menewaskan suami saya dan empat temannya. Saya ingin pelakunya bisa diadili," kata Shirley. Ada nuansa emosional dalam jawabannya.
Greg Shackleton adalah salah satu dari 5 (lima) wartawan Channel 7, tv swasta di Australia, yang tewas dalam insiden penembakan di Balibo, Timor Timur pada tahun 1975. Penyelidikan yang dilakukan pihak koroner di Australia menunjukkan bahwa pasukan Kopassus yang bertugas pada saat itu bertanggungjawab atas penembakan itu.
Nama Yunus Yosfiah, mantan Menteri Penerangan di era Presiden B.J Habibie, disebut dalam hasil laporan itu sebagai pihak yang harus diadili. Yunus Yosfiah yang kini politisi dari Partai Persatuan Pembangunan saat itu memimpin pasukan Kopassus di Timor Timur.
Shirley yang tinggal di Melbourne sejak lama memperjuangkan keadilan bagi suaminya. Kunjungan Presiden SBY di Australia dimanfaatkan Shirley untuk mendapatkan perhatian Presiden SBY dan PM Rudd. Apa janji Dino kepada Shirley? "Dino baik sekali. Dia berjanji akan menyampaikan surat saya ke Presiden. Saya percaya Presiden memiliki ketulusan untuk mengungkap tuntas kasus suami saya," kata Shirley.
Dunia seakan terhenti bagi Shirley ketika suaminya tewas. "Sampai sekarang saya masih tidak percaya hal itu terjadi," kata nenek 2 cucu ini. Greg Shackleton yang lebih muda 10 tahun memberinya seorang putra.

Keterangan Foto: Uni Z. Lubis saat berpose bersama Shirley Shackleton
Saya bisa merasakan kesedihan, dan juga kemarahan yang mendalam yang dirasakan Shirley. Dari balik lensa kamera saat saya merekam jawaban-jawaban atas pertanyaan saya, terlihat matanya nyaris berkaca-kaca. Tapi dia bukan wanita yang lemah. Perjuangannya selama 35 tahun menuntut keadilan atas kematian suaminya menunjukkan betapa tegar perempuan ini.
"Terima kasih sudah mewawancarai saya, moga-moga Presiden Anda memberi perhatian," kata Shirley. Tak ada yang bisa saya katakan selain memeluknya erat usai usai wawancara yang kami lakukan di sebuah lorong sempit di Gedung Parlemen. Saya merasa pesimis kasus Balibo akan diungkap tuntas.
Tak ada satu kalimatpun dari Presiden SBY juga PM Kevin Rudd mengenai kasus yang beberapa hari ini menghangat. Tidak di jumpa pers bersama. Tidak di pidato saat makan siang. Tidak juga saat keduanya pidato di parlemen.