VIVAnews - Seorang rekan kami bertanya pada koleganya yang berdarah Eropa, apakah teman londo itu tidak bosan makan roti setiap hari. Si kolega Eropa itu menjawab, “Sama lah seperti orang Indonesia yang selalu makan nasi setiap hari, pagi-siang-malam.”
Ah, de gustibus non est disputandum, kata orang dulu. Selera memang tak bisa diperdebatkan. Tapi ia bisa dibentuk dari budaya dan kebiasaan. Dan alamlah yang menyumbang pada kedua hal itu.
Indonesia sendiri, dahulu, memiliki pola konsumsi yang beraneka. Tergantung letak dan kondisi geografis. Pola ini tiba-tiba berubah di pertengahan 1980an, ketika bertanam padi digalakkan. Dari Sabang sampai Merauke menu utama orang Indonesia, ya, nasi. Indonesia adalah nasi. Hingga di suatu titik, beras yang kita punya tak cukup untuk semua.
Krisis pangan ini tak hanya melanda Indonesia. Seluruh dunia mengalaminya, dan bersepakat untuk mengambil tindakan untuk mengatasinya. Penerapan teknologi pertanian, pelatihan untuk petani, dan program sejenis lainnya demi meningkatkan produksi. Sesungguhnya ada hal lain yang tak kalah penting: penguatan pangan lokal.
Kembali pada pangan lokal adalah salah satu usaha untuk meningkatkan ketahanan pangan masyarakat. Orang tidak perlu bergantung pada satu jenis makanan saja. Orang Indonesia tak harus selalu bergantung pada nasi, yang Eropa pun tidak harus melulu roti. Biarlah fiat panis -semoga ada roti-hanya semboyan FAO saja. Lebih penting dalam kenyataan adalah fiat nutrimens-semoga ada makanan.